22 Rabi' al-Akhar 1438 عربى | En | Fr | De | Ru | اردو | Tr
Pencarian Terperinci
Akidah Masyarakat dan Keluarga Muamalah Akhlak Jinayah Permasalahan Umum Masalah Kontemporer Ibadah
Skip Navigation Links

Membeli Rumah Melalui Perantaraan Bank

Di zaman ini muncul sejumlah transaksi modern melalui bank. Di antaranya adalah membeli rumah melalui perantaraan bank. Proses pembeliannya adalah pembeli membayar uang muka terlebih dahulu, lalu bank akan melunasi sisanya. Kemudian pembeli akan membayar sisanya tersebut ke bank dengan cara mencicil namun dengan harga lebih mahal dari harga aslinyasetelah adanya kesepakatan antara kedua belah pihak tentang tambahan harganya. Apakah tansaksi model ini dibolehkan?
Berdasarkan ketetapan syariat Islam, dibolehkan melakukan transaksi jual beli dengan pembayaran kontan (cash) atau ditangguhkan sampai tempo tertentu. Adanya tambahan harga sebagai kompensasi (imbalan) atas penangguhan pelunasan juga dibolehkan dalam syariah, sebagaimana pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Alasannya adalah karena hal ini dikategorikan sebagai bentuk akad murabahah. Akad murabahah merupakan salah satu akad yang dibolehkan yang di dalamnya pelaku akad boleh menetapkan syarat tambahan harga sebagai kompensasi dari penangguhan pembayaran. Tempo penangguhan pembayaran tersebut meskipun hakikatnya bukan harta riil, namun dalam akad murabahah harga barang dapat ditambah karenanya agar tercapai suka rela antara kedua belah pihak terhadap penangguhan tersebut. Alasan lainnya adalah tidak terdapat dalil yang melarang model transaksi tersebut, di samping kebutuhan masyarakat terhadap jenis transaksi ini, baik bagi pihak pembeli maupun pihak penjual.
Dalam keadaan ini, bank merupakan mediator (antara nasabah/konsumen dengan produsen) yang membeli barang yang diinginkan konsumen --baik dibeli dengan harga penuh atau sebagian saja— sehingga ia mempunyai hak milik atas barang itu secara hakiki maupun hukmi. Setelah itu, konsumen akan membeli barang tersebut dari bank dengan membayar secara mencicil dengan harga lebih tinggi sebagai kompensasi dari penangguhan pelunasan. Meskipun transaksi ini kadang dinamakan dengan akad pinjaman (qardh), tapi hakikatnya adalah jual beli kredit (dengan cicilan), sehingga hal itu dibolehkan. Hal ini berdasarkan kaidah fikih: idzâ tawassathat as-sil'atu falâ ribâ (jika suatu barang telah menjadi penengah maka tidak ada riba).

    Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.
Home Tentang Kami Kirim Pertanyaan Peta Situs Kritik dan Saran Hubungi Kami